Harta Haram Muamalat Kontemporer (Resume 1)

Bab I

Muamalat sebagaimana kita pahami adalah hubungan antara manusia dengan manusia. Hal ini merupakan lawan kata dari ibadah yang berarti hubungan antara manusia dengan tuhan, tentunya baik muamalat maupun ibadah menyangkut tentang kewajiban dan hak antara kedua belah pihak. Meski demikian, muamalat sering dimaknai sebagai hubungan bisnis yang dilakukan antara manusia dengan manusia lain yang tujuan utamanya adalah untuk mendapatkan keuntungan. Dr. Erwandi Tarmizi dalam bukunya menjelaskan (2016: 27) muamalat jenis ini lebih tepat disebut sebagai muamalat maaliyah.

Kata Muamalat beberapa tahun ini menjadi populer seiring dengan berkembangnya perbankan syariah, sebuah sistem perbankan yang dilaksanakan berdasarkan prinsip – prinsip syariah. Syariat menganggap muamalat adalah sebuah perbuatan yang diperbolehkan sejauh mengikuti ketentuan. Sebagaimana dijelaskan dalam kaidah fiqh berikut ini:

اَلأَصْلُ فِى اْلأَشْيَاءِ اْلإِ بَا حَة حَتَّى يَدُ لَّ اْلدَّلِيْلُ عَلَى التَّحْرِيْمِ

“Hukum asal dari sesuatu (muamalah) adalah mubah sampai ada dalil yang melarangnya (memakruhkannya atau mengharamkannya).”

Ibnu Amir Hajj Al Hanafi (Tarmizi, 2016:39) menjelaskan

الأصل في البيع الحلّ

Hukum asal setiap jual beli adalah halal.

Berdasarkan dalil – dalil diatas, muamalat ternyata dapat bersifat haram apabila tidak sesuai dengan syariat agama. Pengkategorian haram untuk beberapa muamalat dikarenakan terdapat unsur – unsur yang merugikan salah satu pihak sedangkan pihak yang lain justru meraup untung dan / atau melanggar peraturan Allah dan Rasul, seperti gharar, maysir, maksiyat, riba dan sebagainya. Ini bertentangan dengan prinsip keadilan dalam usaha yang konsekwensinya mendatangkan dosa. Alasan lain yaitu untuk mencegah kerugian – kerugian lain yang terjadi, misalnya karena kegiatan muamalat itu memuat perbuatan – perbuatan maksiyat yang jelas – jelas sudah dilarang oleh agama. Meski demikian, pelaksanaan ketentuan (yang sesuai dengan syariat) lambat laun justru ditinggalkan dan kegiatan muamalat yang harampun akhirnya berlaku dikalangan manusia. Rasulullah bersabda:

لَيَأْتِيَنَّ عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ لَا يُبَالِي الْمَرْءُ بِمَا أَخَذَ الْمَالَ أَمِنْ حَلَالٍ أَمْ مِنْ حَرَامٍ

Sungguh pasti akan datang suatu jaman pada manusia yang ketika itu seseorang tidak peduli lagi tentang apa yang didapatnya apakah dari barang halal ataukah haram. (HR. Bukhari).

Keadaan ini sangat mungkin terjadi karena kebutuhan hidup yang semakin meninggi, keinginan untuk menjamin masa depan anak cucu, situasi masyarakat yang semakin kompleks hingga aturan agama akhirnya bercampur dengan aturan yang bertentangan dengan syariat yang mengakibatkan aturan agama justru kehilangan tempat di masyarakat, lemahnya kebijakan pemerintah dalam penerapan hukum yang mengakomodir syariat agama dan sebagainya.

Celakanya, apapun alasan itu ternyata bermuara pada satu konsekwensi yaitu menjadikan muamalat tersebut menjadi haram dan tentunya harta yang didapatkanpun menjadi haram. Sedangkan disisi lain kewajiban mencari yang halal dalam harta adalah kewajiban setiap umat islam.

طلب الحلال فريضة على كل مسلم

Mencari (rezeki) yang halal adalah kewajiban setiap muslim. (HR. Ibnu Mas’ud).

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ كُلُواْ مِمَّا فِي ٱلۡأَرۡضِ حَلَٰلٗا طَيِّبٗا وَلَا تَتَّبِعُواْ خُطُوَٰتِ ٱلشَّيۡطَٰنِۚ إِنَّهُۥ لَكُمۡ عَدُوّٞ مُّبِينٌ. سورة البقرة ١٦٨

2:168. Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلرُّسُلُ كُلُواْ مِنَ ٱلطَّيِّبَٰتِ وَٱعۡمَلُواْ صَٰلِحًاۖ إِنِّي بِمَا تَعۡمَلُونَ عَلِيمٞ. سورة المؤمنون ٥١

23:51. Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang saleh. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

يَا كَعْبَ بْنَ عُجْرَةَ إِنَّهُ لَا يَرْبُو لَحْمٌ نَبَتَ مِنْ سُحْتٍ إِلَّا كَانَتْ النَّارُ أَوْلَى بِهِ

Wahai Ka’ab bin ‘Ujrah, tidaklah daging manusia tumbuh dari barang yang haram kecuali Neraka lebih berhak atasnya. (HR. Tirmidzi).

Menurut bukunya, Dr. Erwandi Tarmizi menuliskan, konsekwensi memakan harta yang haram adalah sebagai berikut:

1. Mengikuti perbuatan syaitan (Halaman 29);

2. Doa tidak dikabulkan – termasuk ibadah lainnya seperti sholat (Halaman 31);

3. Sumber kehinaan (Halaman 35) dan

4. Penyebab datangnya azab (Halaman 35).

Melihat beratnya dampak dari muamalat yang haram, maka perlu adanya solusi atas keadaan tersebut. Pada bagian solusi (sub-bab 1.4), Dr. Erwandi menjelaskan bahwa pada zaman Umar bin Khattab menjadi Amirul Mukminin, beliau membuat kebijakan preventif dengan menugaskan beberapa petugas yang berkeliling ke pasar – pasar untuk menguji pengetahuan jual beli para pedagang dan mengusir mereka apabila tidak memiliki pengetahuan tentang jual beli. Imam Tirmidzi menuliskan

لَا يَبِعْ فِي سُوقِنَا إِلَّا مَنْ قَدْ تَفَقَّهَ فِي الدِّينِ

Janganlah ada seseorang yang berjualan dipasar kami ini, kecuali jika ia telah mendalami ilmu agama.

Kebijakan diatas menunjukkan bahwa kehalalan aktifitas muamalat atau jual beli sangat diperhatikan karena apabila sampai lalai dampak buruknya sangat besar. Jika kita melihat keadaan sekarang, justru banyak sekali pedagang yang tidak memahami atau kurang sekali pengetahuan dalam urusan muamalat. Akhirnya objek usaha atau dagangan yang halal bisa menjadi haram hasilnya.

Misalnya ada orang yang berprofesi sebagai makelar. Katakanlah dia makelar tanah dan bangunan. Saat menawarkan tanah dia mengatakan bahwa barang tersebut akan dibeli oleh pihak ketiga dengan harga lebih mahal lima bulan yang akan datang. Jadi pihak kedua hanya dijadikan transit saja. Sekilas tidak ada masalah. Tapi dalam proses itu ada unsur ketidakpastian / gharar yang terjadi karena tidak ada yang dapat menjamin apa yang akan terjadi setelah lima bulan dibelinya tanah. Apakah benar pihak ketiga akan membeli? Ataukah menunda? Atau malah menjadi batal? Hal yang sangat mungkin terjadi justru pihak kedua akan dirugikan karena tidak sesuai dengan penawaran awal.

Contoh lainnya, proses tukar menukar beras antara beras yang bagus sebanyak setengah kilo dengan beras yang tidak bagus sebanyak dua kilo. Meski berbeda kualitas, beras tetaplah barang ribawi yang apabila hendak ditukarkan harus sama dalam takaran dan bobotnya. Apabila ada pedagang beras yang tidak ingin rugi, lalu langsung menukarkan dengan cara diatas maka terjadilah transaksi riba yang masuk dalam kualifikasi haram.

Dua hal diatas merupakan contoh mengapa muamalat diatur dalam syariat dan pedagang juga harus memiliki pengetahuan yang cukup dalam menjalankan bisnisnya. Adapun kualifikasi usaha, komoditas usaha yang halal dan yang haram dan variasi muamalat dalam tinjauan syariat telah dipaparkan oleh Dr. Erwandi dalam bukunya pada bab – bab selanjutnya. Yang akan penulis usahakan untuk merangkumnya tanpa mengurangi isi kandungan tulisan tersebut.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s